KRATON JOGJA
SELAMAT DATANG
Saya ucapkan selamat datang di rumah sederhana saya, semoga nyaman dengan segala keterbatasan yang ada. Terimakasih.......Monggo......
Selasa, 01 Mei 2012
BIOGRAFI SASTRAWAN INDONESIA
BIOGRAFI PUTU WIJAYA
Putu Wijaya - Sastrawan Serba BisaIa sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya. Novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan: Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Namanya I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang biasa disebut Putu Wijaya. Tidak sulit untuk mengenalinya karena topi pet putih selalu bertengger di kepalanya. Kisahnya, pada ngaben ayahnya di Bali, kepalanya digundul. Kembali ke Jakarta, selang beberapa lama, rambutnya tumbuh tapi tidak sempurna, malah mendekati botak. Karena itu, ia selalu memakai topi. "Dengan ini saya terlihat lebih gagah," tutur Putu sambil bercanda.
Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Ia bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Semasa di SD, ''Saya doyan sekali membaca,'' tuturnya, ''Mulai dari karangan Karl May, buku sastra Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang berahi. Sejak kecil, saya juga senang sekali seni pertunjukan. Mungkin sudah merupakan bakat, senang pada seni laku," ujarnya mengenang.
Meskipun demikian, ia tak pernah diikutkan main drama semasih kanak-kanak, juga ketika SMP. Baru setelah menang lomba deklamasi, ia diikutkan main drama perpisahan SMA, yang diarahkan oleh Kirdjomuljo, penyair dan sutradara ternama di Yogyakarta. Ia pertama kali berperan dalam Badak, karya Anton Chekov. "Sejak itu saya senang sekali pada drama," kenang Putu Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya. Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.
Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia. Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil asuhan sutradara ternama Arifin C. Noer dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres (1969). Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). "Saya perlu bekerja jadi wartawan untuk menghidupi keluarga saya. Juga karena saya tidak mau kepengarangan saya terganggu oleh kebutuhan mencari makan," tutur Putu.
Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama (Kabuki) di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Sebelum pulang ke Indonesia, mampir di Prancis, ikut main di Festival Nancy.
Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. "Yang melekat di kepala saya adalah bagaimana menulis sesuatu yang sulit menjadi mudah. Menulis dengan gaya orang bodoh, sehingga yang mengerti bukan hanya menteri, tapi juga tukang becak. Itulah gaya Tempo," ungkap Putu. Ia juga membiasakan diri dengan tenggat - suatu siksaan bagi kebanyakan pengarang. Dari Tempo, Putu pindah ke majalah Zaman (1979-1985), dan ia tetap produktif menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri, yang dipimpinnya. Di samping itu, ia mengajar pula di Akademi Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).Ia mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001).
Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.
Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya - penuh potongan-potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif bahasanya. Ia lebih mementingkan perenungan ketimbang riwayat.
Adapun konsep teaternya adalah teror mental. Baginya, teror adalah pembelotan, pengkhianatan, kriminalitas, tindakan subversif terhadap logika - tapi nyata. Teror tidak harus keras, kuat, dahsyat, menyeramkan; bahkan bisa berbisik, mungkin juga sama sekali tidak berwarna.Ia menegaskan, ''teater bukan sekadar bagian dari kesusastraan, melainkan suatu tontonan.'' Naskah sandiwaranya tidak dilengkapi petunjuk bagaimana harus dipentaskan. Agaknya, memberi kebebasan bagi sutradara lain menafsirkan. Bila menyinggung problem sosial, karyanya tanpa protes, tidak mengejek, juga tanpa memihak. Tiap adegan berjalan tangkas, kadang meletup, diseling humor.Mungkin ini cerminan pribadinya. Individualitasnya kuat, dan berdisiplin tinggi.
Saat ditanya pemikiran pengarang yang sehari bisa mengarang cerita 30 halaman, menulis empat artikel dalam satu hari ini tentang tulis menulis, Putu menjawab, ''Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,'' katanya, ''bahkan kalau bisa tanpa diketahui.'' Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. ''Kesenian,'' katanya, ''merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas.''
"Saya sangat percaya pada insting," kata Putu tentang caranya menulis. "Ketika menulis, saya tidak mempunyai bahan apa-apa. Semua datang begitu saja ketika di depan komputer," katanya lagi. Ia percaya bahwa ada satu galaksi dalam otak yang tidak kita mengerti cara kerjanya. Tapi, menurut Putu, itu bukan peristiwa mistik, apalagi tindak kesurupan. Selain menekuni dunia teater dan menulis, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron. Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.
Pada 1977, ia menikah dengan Renny Retno Yooscarini alias Renny Djajusman yang dikaruniai seorang anak, Yuka Mandiri. ''Sebelum menikah saya menulis Sah, ee, saya mengalami persis seperti yang saya tulis,'' ujarnya. ''Pernikahan saya bubar pada 1984.'' Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia menikahi gadis Sunda, Dewi Pramunawati, karyawati majalah Medika. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya hidup di Amerika Serikat selama setahun.
Atas undangan Fulbright, 1985-1988, ia menjadi dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS. Atas undangan Japan Foundation, Putu menulis novel di Kyoto, Jepang, 1992. Setelah lama berikhtiar - walau dokter di Amerika mendiagnosis Putu tak bakal punya anak lagi - pada 1996, pasangan ini dikaruniai seorang anak, Taksu.Rumah tangga baginya sebuah "perusahaan". Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan. Soal pendidikan anak, "Saya tidak punya cara," ujar Putu. Anak dianggap sebagai teman, kadang diajak berunding, kadang dimarahi. Dan, kata Putu, "Saya tidak mengharapkan ia menjadi apa, saya hanya memberikan kesempatan saja."
Kini, penggemar musik dangdut, rock, klasik karya Bach atau Vivaldi dan jazz ini total hanya menulis, menyutradarai film dan sinetron, serta berteater. Dalam bekerja ia selalu diiringi musik. Olahraganya senam tenaga prana Satria Nusantara. "Sekarang saya sudah sampai pada tahap bahwa kesenian merupakan upaya dan tempat berekspresi sekaligus pekerjaan," ujar Putu
Sumber: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
BIOGRAFI TAUFIK ISMAIL
Taufiq Ismail lahir di
Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di
Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia
berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya.
Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.
Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service
Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di
Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia
Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.
Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.
Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).
Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.
Hasil karya:
1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)
6. Puisi-puisi Langit,Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10. Seulawah — Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (199 8)
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)
Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.
Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.
Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.
Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).
Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.
Anugerah yang diterima:
1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999)
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)
Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.
BIOGRAFI SUTARJI CALZOUM BACHRI
Dia
telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara
lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra
Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia
memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala
jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.
Penyair
kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang
tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang
diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
Kejutan
pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan
kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku …Dan, Menghidu Pucuk Mawar
Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Atau
Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an
hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya,
Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).
Kejutan
tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak
disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu
berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat
menerima hadiah Rp 100 juta itu. “Sehebat-hebat karya sastra yang
dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi
masyarakat,” ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung
karena mendapat apresiasi.
Ketua
Dewan Kesenian Riau Eddy Akhmad RM, mengatakan, pihaknya menabalkan
Juni sebagai bulan Sutardji. Penabalan ini tak bermaksud mengultuskan
Sutardji. Ini, katanya, pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya
menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang,
menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang
sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi. ?e-ti/binsar
halomoan
***
Dalam
karyanya berjudul Ayo (1998) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat
dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah
yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah
yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri,
1998)
Soetardji
membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival
Nopember 1999, Rabu (17/11/1999). Euphoria reformasi, di tangan penyair,
sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu
adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan ‘presiden penyair
Indonesia’ Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria
reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau
belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan
perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka
malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM),
suara-suara para penyair — juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon
Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji — lebih
banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah
Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan
para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil
dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening
yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji
membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol
tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.
Pembacaan
puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena
secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa
sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang
membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu
proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang
ada. ”Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita
terus berpikir dan bertafakur,” paparnya.
Namun,
kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah
Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ”Setiap orang harus membikin sidik
jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa
memberi warna,” kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Menggandeng
dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca
sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula
suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My
Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ‘penyair mantra’
yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya
yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan
tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ”Aku tak
pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil
aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,” katanya.
Apakah
puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam
penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ”Kehadiran sajak itu harus
akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,” tambahnya. Tapi,
beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal
ketika ‘bertarung dalam satu panggung’ dengan Rendra dan Taufiq Ismail
tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ”soalnya honornya
kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.”
Penyair
sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992),
menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan
kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem
ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari
sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ”Kita adalah
penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan
dapat memimpin. Kita…….”
Kritik
serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana
yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan
keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran
lainnya. ”Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari
generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak
henti-henti….,” ujar Abdul Hadi.
Berbagai
interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat
Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi
dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas
terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
”Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ….
Dan
seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan
Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku
ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita
tolong mereka, mari kita tolong diri kita
Leon
Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah.
Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran
dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang
Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua
karyanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

