KRATON JOGJA
SELAMAT DATANG
Saya ucapkan selamat datang di rumah sederhana saya, semoga nyaman dengan segala keterbatasan yang ada. Terimakasih.......Monggo......
Selasa, 01 Mei 2012
BIOGRAFI SASTRAWAN INDONESIA
BIOGRAFI PUTU WIJAYA
Putu Wijaya - Sastrawan Serba BisaIa sudah menulis kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama. Ia juga menulis skenario film dan sinetron. Sebagai dramawan, ia memimpin Teater Mandiri sejak 1971, dan telah mementaskan puluhan lakon di dalam maupun di luar negeri. Puluhan penghargaan ia raih atas karya sastra dan skenario sinetron. Harian Kompas dan Sinar Harapan kerap memuat cerita pendeknya. Novelnya sering muncul di majalah Kartini, Femina, dan Horison. Memenangkan lomba penulisan fiksi baginya sudah biasa. Sebagai penulis skenario, ia dua kali meraih piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI), untuk Perawan Desa (1980), dan Kembang Kertas (1985). Sebagai penulis fiksi sudah banyak buku yang dihasilkannya. Di antaranya, yang banyak diperbincangkan: Bila Malam Bertambah Malam, Telegram, Pabrik, Keok, Tiba-Tiba Malam, Sobat, Nyali.
Namanya I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang biasa disebut Putu Wijaya. Tidak sulit untuk mengenalinya karena topi pet putih selalu bertengger di kepalanya. Kisahnya, pada ngaben ayahnya di Bali, kepalanya digundul. Kembali ke Jakarta, selang beberapa lama, rambutnya tumbuh tapi tidak sempurna, malah mendekati botak. Karena itu, ia selalu memakai topi. "Dengan ini saya terlihat lebih gagah," tutur Putu sambil bercanda.
Putu yang dilahirkan di Puri Anom, Tabanan, Bali pada tanggal 11 April 1944, bukan dari keluarga seniman. Ia bungsu dari lima bersaudara seayah maupun dari tiga bersaudara seibu. Ia tinggal di kompleks perumahan besar, yang dihuni sekitar 200 orang, yang semua anggota keluarganya dekat dan jauh, dan punya kebiasaan membaca. Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, seorang pensiunan punggawa yang keras dalam mendidik anak. Semula, ayahnya mengharapkan Putu jadi dokter. Namun, Putu lemah dalam ilmu pasti. Ia akrab dengan sejarah, bahasa, dan ilmu bumi.
Semasa di SD, ''Saya doyan sekali membaca,'' tuturnya, ''Mulai dari karangan Karl May, buku sastra Komedi Manusia-nya William Saroyan, sampai cerita picisan yang merangsang berahi. Sejak kecil, saya juga senang sekali seni pertunjukan. Mungkin sudah merupakan bakat, senang pada seni laku," ujarnya mengenang.
Meskipun demikian, ia tak pernah diikutkan main drama semasih kanak-kanak, juga ketika SMP. Baru setelah menang lomba deklamasi, ia diikutkan main drama perpisahan SMA, yang diarahkan oleh Kirdjomuljo, penyair dan sutradara ternama di Yogyakarta. Ia pertama kali berperan dalam Badak, karya Anton Chekov. "Sejak itu saya senang sekali pada drama," kenang Putu Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya. Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra. Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.
Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969). Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu. Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969). Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu. Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia. Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil asuhan sutradara ternama Arifin C. Noer dan Teater Populer. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres (1969). Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). "Saya perlu bekerja jadi wartawan untuk menghidupi keluarga saya. Juga karena saya tidak mau kepengarangan saya terganggu oleh kebutuhan mencari makan," tutur Putu.
Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama (Kabuki) di Jepang (1973) selama satu tahun. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan. Setelah itu, ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1974, ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Sebelum pulang ke Indonesia, mampir di Prancis, ikut main di Festival Nancy.
Putu mengaku belajar banyak dari Tempo dan Goenawan Mohamad. "Yang melekat di kepala saya adalah bagaimana menulis sesuatu yang sulit menjadi mudah. Menulis dengan gaya orang bodoh, sehingga yang mengerti bukan hanya menteri, tapi juga tukang becak. Itulah gaya Tempo," ungkap Putu. Ia juga membiasakan diri dengan tenggat - suatu siksaan bagi kebanyakan pengarang. Dari Tempo, Putu pindah ke majalah Zaman (1979-1985), dan ia tetap produktif menulis cerita pendek, novel, lakon, dan mementaskannya lewat Teater Mandiri, yang dipimpinnya. Di samping itu, ia mengajar pula di Akademi Teater, Institut Kesenian Jakarta (IKJ).Ia mempunyai pengalaman bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Ia juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001).
Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan. Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra. Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.
Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya - penuh potongan-potongan kejadian yang padat, intens dalam pelukisan, ekspresif bahasanya. Ia lebih mementingkan perenungan ketimbang riwayat.
Adapun konsep teaternya adalah teror mental. Baginya, teror adalah pembelotan, pengkhianatan, kriminalitas, tindakan subversif terhadap logika - tapi nyata. Teror tidak harus keras, kuat, dahsyat, menyeramkan; bahkan bisa berbisik, mungkin juga sama sekali tidak berwarna.Ia menegaskan, ''teater bukan sekadar bagian dari kesusastraan, melainkan suatu tontonan.'' Naskah sandiwaranya tidak dilengkapi petunjuk bagaimana harus dipentaskan. Agaknya, memberi kebebasan bagi sutradara lain menafsirkan. Bila menyinggung problem sosial, karyanya tanpa protes, tidak mengejek, juga tanpa memihak. Tiap adegan berjalan tangkas, kadang meletup, diseling humor.Mungkin ini cerminan pribadinya. Individualitasnya kuat, dan berdisiplin tinggi.
Saat ditanya pemikiran pengarang yang sehari bisa mengarang cerita 30 halaman, menulis empat artikel dalam satu hari ini tentang tulis menulis, Putu menjawab, ''Menulis adalah menggorok leher tanpa menyakiti,'' katanya, ''bahkan kalau bisa tanpa diketahui.'' Kesenian diibaratkannya seperti baskom, penampung darah siapa saja atau apa pun yang digorok: situasi, problematik, lingkungan, misteri, dan berbagai makna yang berserak. ''Kesenian,'' katanya, ''merupakan salah satu alat untuk mencurahkan makna, agar bisa ditumpahkan kepada manusia lain secara tuntas.''
"Saya sangat percaya pada insting," kata Putu tentang caranya menulis. "Ketika menulis, saya tidak mempunyai bahan apa-apa. Semua datang begitu saja ketika di depan komputer," katanya lagi. Ia percaya bahwa ada satu galaksi dalam otak yang tidak kita mengerti cara kerjanya. Tapi, menurut Putu, itu bukan peristiwa mistik, apalagi tindak kesurupan. Selain menekuni dunia teater dan menulis, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron. Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.
Pada 1977, ia menikah dengan Renny Retno Yooscarini alias Renny Djajusman yang dikaruniai seorang anak, Yuka Mandiri. ''Sebelum menikah saya menulis Sah, ee, saya mengalami persis seperti yang saya tulis,'' ujarnya. ''Pernikahan saya bubar pada 1984.'' Tetapi ia tidak lama menduda. Pertengahan 1985, ia menikahi gadis Sunda, Dewi Pramunawati, karyawati majalah Medika. Bersama Dewi, Putu Wijaya selanjutnya hidup di Amerika Serikat selama setahun.
Atas undangan Fulbright, 1985-1988, ia menjadi dosen tamu teater dan sastra Indonesia modern di Universitas Wisconsin dan Universitas Illinois, AS. Atas undangan Japan Foundation, Putu menulis novel di Kyoto, Jepang, 1992. Setelah lama berikhtiar - walau dokter di Amerika mendiagnosis Putu tak bakal punya anak lagi - pada 1996, pasangan ini dikaruniai seorang anak, Taksu.Rumah tangga baginya sebuah "perusahaan". Apa pun diputuskan berdasarkan pertimbangan istri dan anak, termasuk soal pekerjaan. Soal pendidikan anak, "Saya tidak punya cara," ujar Putu. Anak dianggap sebagai teman, kadang diajak berunding, kadang dimarahi. Dan, kata Putu, "Saya tidak mengharapkan ia menjadi apa, saya hanya memberikan kesempatan saja."
Kini, penggemar musik dangdut, rock, klasik karya Bach atau Vivaldi dan jazz ini total hanya menulis, menyutradarai film dan sinetron, serta berteater. Dalam bekerja ia selalu diiringi musik. Olahraganya senam tenaga prana Satria Nusantara. "Sekarang saya sudah sampai pada tahap bahwa kesenian merupakan upaya dan tempat berekspresi sekaligus pekerjaan," ujar Putu
Sumber: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
BIOGRAFI TAUFIK ISMAIL
Taufiq Ismail lahir di
Bukittinggi, 25 Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di
Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia
berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya.
Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.
Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American Field Service
Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di
Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia
Ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa (1960–1962).
Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.
Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai sekarang ini ia memimpin majalah itu.
Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas, yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978). Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).
Pada tahun 1993 Taufiq diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia.
Sebagai penyair, Taufiq telah membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti, dan peristiwa Pengeboman Bali.
Hasil karya:
1. Tirani, Birpen KAMI Pusat (1966)
2. Benteng, Litera ( 1966)
3. Buku Tamu Musium Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4. Sajak Ladang Jagung, Pustaka Jaya (1974)
5. Kenalkan, Saya Hewan (sajak anak-anak), Aries Lima (1976)
6. Puisi-puisi Langit,Yayasan Ananda (buklet baca puisi) (1990)
8. Prahara Budaya (bersama D.S. Moeljanto), Mizan (1995)
9. Ketika Kata Ketika Warna (editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10. Seulawah — Antologi Sastra Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (199 8)
12. Dari Fansuri ke Handayani (editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13. Horison Sastra Indonesia, empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001, Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)
Karya terjemahan:
1. Banjour Tristesse (terjemahan novel karya Francoise Sagan, 1960)
2. Cerita tentang Atom (terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
3. Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam, M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
Atas kerja sama dengan musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.
Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.
Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N. Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985) dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International, New York.
Ia juga membantu LSM Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden Megawati (2002).
Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa, Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur senior majalah Horison.
Anugerah yang diterima:
1. Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1970)
2. Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977)
3.South East Asia (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand (1994)
4. Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994)
5. Sastrawan Nusantara dari Negeri Johor,
Malaysia (1999)
6. Doctor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (2003)
Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati Yatim pada tahun 1971 dan dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.
BIOGRAFI SUTARJI CALZOUM BACHRI
Dia
telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara
lain Hadiah Sastra ASEAN (1979), Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra
Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia
memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala
jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.
Penyair
kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang
tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang
diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
Kejutan
pertama dari rekan-rekannya di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan
kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku …Dan, Menghidu Pucuk Mawar
Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Atau
Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an
hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya,
Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).
Kejutan
tak terduga kedua ialah dari seorang pencinta seni Riau yang tak
disebutkan namanya berupa uang Rp 100 juta. Soetardji tentu
berterimakasih atas apresiasi itu, walau dia terlihat biasa saja saat
menerima hadiah Rp 100 juta itu. “Sehebat-hebat karya sastra yang
dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi
masyarakat,” ujarnya berterimakasih. Menurutnya, dia termasuk beruntung
karena mendapat apresiasi.
Ketua
Dewan Kesenian Riau Eddy Akhmad RM, mengatakan, pihaknya menabalkan
Juni sebagai bulan Sutardji. Penabalan ini tak bermaksud mengultuskan
Sutardji. Ini, katanya, pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya
menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang,
menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang
sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi. ?e-ti/binsar
halomoan
***
Dalam
karyanya berjudul Ayo (1998) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat
dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah
yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah
yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri,
1998)
Soetardji
membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival
Nopember 1999, Rabu (17/11/1999). Euphoria reformasi, di tangan penyair,
sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu
adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan ‘presiden penyair
Indonesia’ Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria
reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau
belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan
perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka
malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM),
suara-suara para penyair — juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon
Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji — lebih
banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah
Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan
para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil
dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening
yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji
membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol
tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.
Pembacaan
puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena
secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa
sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang
membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu
proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang
ada. ”Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita
terus berpikir dan bertafakur,” paparnya.
Namun,
kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah
Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ”Setiap orang harus membikin sidik
jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa
memberi warna,” kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Menggandeng
dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca
sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula
suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My
Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi ‘penyair mantra’
yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya
yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan
tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ”Aku tak
pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil
aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,” katanya.
Apakah
puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam
penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ”Kehadiran sajak itu harus
akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,” tambahnya. Tapi,
beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal
ketika ‘bertarung dalam satu panggung’ dengan Rendra dan Taufiq Ismail
tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ”soalnya honornya
kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.”
Penyair
sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992),
menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan
kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem
ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari
sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ”Kita adalah
penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan
dapat memimpin. Kita…….”
Kritik
serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana
yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan
keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran
lainnya. ”Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari
generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak
henti-henti….,” ujar Abdul Hadi.
Berbagai
interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat
Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi
dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas
terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
”Mari kita bangun jembatan,” dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ….
Dan
seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan
Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku
ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita
tolong mereka, mari kita tolong diri kita
Leon
Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah.
Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran
dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang
Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua
karyanya.
Kamis, 26 April 2012
PUISI TAUFIK ISMAIL
Puisi Taufik Ismail - Kumpulan Puisi Taufik Ismail atau koleksi puisi-puisi karya taufik ismail, Nah buat yang suka sama puisi taufik ismail silahkan dilihat berikut di bawah ini puisi-puisinya :
Syair Orang Lapar
Lapar menyerang desaku
Kentang dipanggang kemarau
Surat orang kampungku
Kuguratkan kertas
Risau
Lapar lautan pidato
Ranah dipanggang kemarau
Ketika berduyun mengemis
Kesinikan hatimu
Kuiris
Lapar di Gunungkidul
Mayat dipanggang kemarau
Berjajar masuk kubur
Kauulang jua
Kalau
1964
Sumber : Tirani dan Benteng
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah pergi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ’Selamat tinggal perjuangan’
Berikara setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
1966
Sumber: Tirani dan Benteng
Bayi Lahir Bulan Mei 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya
1998
Sumber: Malu (Aku) Jadi Orang IndonesiaNah itulah Beberapa karya puisi taufik ismail atau koleksi puisi-puisi taufik ismail.
Puisi Sapardi Djoko Damono
Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono
SAPARDI DJOKO
DAMONO
AKU INGIN
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya debu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah
sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan
bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan
untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi
sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi
selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu
-- alangkah indahnya!"
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang
berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
AKU INGIN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang
menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari
sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara
nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang
mendadak di depanku?"
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar
jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
lagi
-- sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa
scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang
terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang
panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair
kembali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ANGIN, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut
ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak
bukit itu.
"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku
tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
ATAS KEMERDEKAAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah
Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan
kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari
mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di
antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa
di antara kami yang harus berjalan di depan
BUNGA, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian saja,
para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada
suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan
udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti
ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian
saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BUNGA, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia
ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya --
tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini
rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan
cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan
kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BUNGA, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah
berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya
mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan
yang telah membawa pergi jasadku?"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka
berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon
jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku
sering ingin sendirian
soalnya ia baka
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
CERMIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
CERMIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam
cermin;
tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau
mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke
mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
DI ATAS BATU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil
ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga
memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang - timbul
di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa
ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PERTAPA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau
sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti,
kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna --
masih beranikah kau menyapaku, Saudara?
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
DUA PERISTIWA DALAM SATU SAJAK DUA BAGIAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal
menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu
padamu
2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
GONGGONG ANJING
untuk Rizki
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting
di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?" tanya
sunyi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.
HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini
senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap
pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KEPOMPONG ITU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu
yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan
meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara
dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan
tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia
tak berhak bermimpi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Hus, itu bukan anjing; itu capung!"
katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat
sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi
hari,
dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun
terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya
mungil, bukan?
Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang
ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu,
mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.
Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.
"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa
kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas
menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim
hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut
sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti
di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari
plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan
bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit
yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung
rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama
kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam
dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan
yang gerimis
-- pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari
duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur
(begitu hening!)
aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam
hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak
(begitu tajam!)
aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air
dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib
jangan pejamkan matamu:
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis
dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu
kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.
Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte
bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung
datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan,
bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan
menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan
kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju
lautan.
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar,"
kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari
perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh,
katanya,
"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah
banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PERISTIWA PAGI TADI
kepada GM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh
kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang
warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur
aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku
yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat
beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans
dan meninggal sesampai di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang
peristiwa itu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa
memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.
Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak
disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa
aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya
akan .....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PESTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi
itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke
tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan,
dan kakinya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel
telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! "
kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut
daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu .
hujan!"
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan
tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK NOPEMBER
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan
siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan
sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan
anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada anak cucu kami;
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu lobang
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling lantang ditiup
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari kubur
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat
itu
tanpa tahu siapa kami ini
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang
tulus
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di
pasar
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut, meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan
dan kami tak lain baja yang membara hancur
oleh pukulan
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba giliranmu
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman dan bapa
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan
bapak
ingat untuk apa kamu pergi
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai
manusia
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya
jawablah : ya
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut
apa-apa
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam
hari
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan
bahasa dan kehendak kami
sudah kau dengarkah suara napas kami
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga
tidak
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga
tidak
tapi toh tak ada bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya :
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal pertaruhan
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi
meski kami pernah kau kenal atau tidak
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan
baik
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan yang pasti
walau tak pernah kembali
kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak
bertanda
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak
punya nama
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati
kami telah mati
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir
di sini
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan
kami
kami telah berkelahi; dan mati
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati
kami
dan mengatakannya kepada siapa pun
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi sekali
dan berjalan tanpa nama dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan selalu lahir
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu berkelahi
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja hari ini
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan
cipta
Gelora
Th III, No 19
( Nopember 1962)
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
TUAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK SUBUH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru
saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!"
dan ia terkejut tak mengerti.
Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia
ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk
pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.
"Jangan bermimpi!" gertak mereka.
Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing
sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori
kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan
bermimpi! "
Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan
.....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK TELUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap
burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang
senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak, 1982.
SELAMAT PAGI INDONESIA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil
mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di
sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak
jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan
pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu
Basis
Thn. XV - 4
Januari 1965
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
SERULING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya,
menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan putri dari
kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya ....
Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang
senantiasa menganga.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SETANGAN KENANGAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di
lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir
menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar ingin terbang
menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SIHIR HUJAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan
jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di
pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SUDAH KUTEBAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang
menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantukdi tepi
sungai itu.
Sendirian.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TAJAM HUJANMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan
kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TEKUKUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Kautembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut,
beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di sela-sela jari angin,
satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun-daun
rumput. "Kena!" serumu.
Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar
bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing
sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.
Tetes-tetes darahnya melayang : ada yang sempat
melewati berkas- berkas sinar matahari, membiaskan wama merah cemerlang, lalu
jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.
"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang
gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam
sebuah taman bunga.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TELINGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan
letupan dan desis
yang menciptakan suara.
"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa
pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TENTANG MATAHARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.
YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Perasaan Para Pelajar
Sapardi Djoko Damono
Rasa penat mulai terasa
Oleh suatu materi yang tiada tersisa
Yang di dapat tak kan pernah sia-sia
Karena mencari ilmu
Kekal abadi sepanjang usia
Terkuras semua pikiran
Termakan oleh materi pelajaran
Tersimpan beberapa hafalan
Dan terluapkan ketika mengerjakan
Inilah nasib para pelajar
Yang harus lebih giat dalam belajar
Demi masa depan yang bersinar
Bak matahari yang selalu berpijar
Langganan:
Postingan (Atom)

